Gunung Cikuray 2821mdpl Garut Jawa Barat

http://namakudee.files.wordpress.com/2010/03/img_3279.jpghttp://images.detik.com/customthumb/2011/08/18/1026/travel_sunrise.jpg?w=600

Gunung Cikuray merupakan salah satu gunung yang terdapat di Kabupaten Garut yang memiliki ketinggian 2845 mdpl yang merupakan tanah tertinggi di kabupaten yang berjuluk Swiss Van Java ini. Bentuk yang hampir menyerupai kerucut sempurna jika dilihat dari pusat kota garut, sudah cukup untuk membuat darah para petulalang berdesir untuk segera mengunjunginya. Disekitar gunung ini pun mempunyai banyak panorama alam yang sangat indah dan layak untuk kita kunjungi.

Setelah pendakian pertama di Tanah sunda yaitu di Gunung Papandayan dahulu, kali ini saya mempunyai keinginan untuk menjejakkan kaki di tanah tertinggi Kabupaten Garut yaitu Gunung Cikuray. Awal keinginan mendaki gunung ini pun bisa dibilang tidak sengaja dan mendadak. Rencana ini berawal dari ajakan adik tercinta Si Fita dari Surabaya yang ingin sekali mencoba yang namanya mendaki Gunung. Saya pun berjanji untuk mengajaknya dan memilih Gunung Papandayan dikarenakan medan yang mudah dan sangat cocok untuk para pendaki pemula. Tetapi hal tidak terduga adalah seminggu sebelum pendakian status Gunung Papandayan dinaikkan menjadi waspada dan ditutup total untuk semua kegiatan pendakian. Tiket kereta tujuan Jakarta telah dibeli oleh Fita, kepalang tanggung saya pun mencari alternatif gunung lainnya. Pada awalnya saya memilih Gunung Gede Pangrango, tetapi berhubung masih dalam jadwal rutin penutupan January sampai maret maka akhirnya saya pun melirik Gunung Cikuray ini. Rasa sangsi pada awal melakukan pendakian gunung ini, dari banyak info yang saya dapatkan Gunung Cikuray mempunyai trek yang cukup sadis. Apalagi saya membawa newbie dalam hal pendakian, tetapi dengan banyak pertimbangan akhirnya pendakian ini pun terlaksana dengan anggota tim yang cukup banyak. Saya, Fita, Ferdy, Ibo, Reza, Ika, Septi, Ridwan, Fahmy, Imam.
Untuk mencapai trek awal pendakian Gunung Cikuray kita harus menuju pos Pemancar yang ada di tengah perkebunan teh di daerah Cilawu, Garut. Opsi pertama, Kita bisa naik angkot dengan jurusan Cilawu dan turun di pertigaan Kebun Teh. Bilang saja ke sopir angkot pasti mereka sudah paham. Dari pertigaan kita bisa menaiki ojek hingga pos pemancar di kaki gunung Cikuray.

Opsi Kedua, kita bisa menyewa angkot atau pick up yang ada di terminal Garut. Opsi ini yang kami lakukan dalam pendakian kali ini. Tawar menawar cukup sengit kami lakukan demi mendapatkan harga yang seEfisien mungkin. Harga pun ditetapkan 300 ribu untuk 1 angkot yang akan mengantarkan kita hingga pos pemancar, DEAL. Tas karung pun kita letakkan di atas angkot. Tak beberapa lama angkot pun meluncur meliuk liuk menelusuri jalanan. Hampir sejam berjalan kami tiba di perbatasan kampung dengan perkebunan teh. Disini pun kejadian agak ganjil kami alami, sang sopir angkot tampak kebingungan mencari jalan mencapai pemancar. Angkot berputar putar saja, saya pun agak keheranan kenapa sopir ini sekilas tampak bingung. Dan tak disangka sangka kamipun diturunkan di perbatasan kebun ini. Ibo selaku ketua pendakian pun langsung tampak berdiskusi akan masalah ini, tetapi sang sopir tetap tidak mau melanjutkan perjalanan menuju pemancar dengan berbagai alasan. Akhirnya emosi saya pun terpantik, sumpah serapah saya lontarkan ke sopir dan kenek angkot. Kamipun hanya membayar setengah harga dari kesepakatan. Awalnya sopir pun tidak mau tetap meminta harga penuh, tapi karena kami diturunkan di tengah jalan dan kamipun tidak terima. Daripada kami bakar itu angkot laknat kamipun segera meninggalkan angkot dengan rasa amarah.
Catatan : Untuk menuju pos pemancar dengan mencarter kendaraan, alangkah baiknya mencari kenalan kendaraan yang benar benar sanggup mengantarkan ke pos pemancar. Jangan terlalu mudah percaya dengan tawaran calo angkot di Terminal Guntur. Atau bisa PM saya saja untuk info kontak carter kendaraan yang dapat dipercaya.  
Setelah mengalami yang kurang mengenakkan tersebut kami pun dengan terpaksa harus berjalan kaki menuju pos Pemancar. Lampu kelap kelip Pos Pemancar Nampak dekat di perbatasan kebun tempat kami meninggalkan angkot, tetapi menurut Ibo jarak tempuh lumayan jauh kira kira 2 jam berjalan kaki. Mental sempat turun ketika Ibo mengatakan hal tersebut, tapi mau bagaimana lagi. Akhirnya kita pun melanjutkan perjalanan dengan berat hati. Langkah demi langkah hingga sinar mentari pun muncul. Pemandangan menakjubkan pun tersaji sepanjang perjalanan di tengah kebun teh. 


Puncak cikuray pun tampak gagah beriring dengan cuaca cerah pagi itu. Di tengah kebun kami pun sempat kehilangan arah. Karena jalan raya tampak semakin menjauh dari pemancar, tetapi dengan tekat tangguh kita pun berjalan menyusuri bukit dan berujung dengan lereng vertikal dengan kemiringan 60 derajat. Dengan keyakinan penuh kami pun melaluinya, yang menurut saya ini mirip dengan trek mahameru bedanya yang ini bukan pasir melainkan tanah gembur yang mudah sekali longsor. Diujung bukit kami bertemu lagi dengan jalan aspal yang tadi menjauh, dari sini pos pemancar sudah sangat dekat. Sekitar 15 menit berjalan akhirnya kita pun tiba di pos pemancar. Perjuangan sangat berat, kami pun kelelahan di pemancar. 

Baru sampe pemancar saja kami semua sudah cukup kelelahan pikirku. Bagaimana jika nanti kita melewati trek sesungguhnya mendaki gunung Cikuray ini ??, semoga kita semua diberi kekuatan dan kelancaran. Kira kira tepat pukul 10 pagi melangkah ke jalur utama pendakian. Trek pertama membelah perkebunan teh yang kemudian jalan akan bercabang 2. Pilihlah arah kanan karena jika mengambil arah kiri maka kita akan melewati perkebunan dengan trek yang lebih terjal dan mungkin pun kita bisa tersesat diantara ladang penduduk. Selepas ladang kita masuk di batas hutan. Trek dari sini mulai menanjak dengan kondisi yang licin apabila hujan sedang mengguyur. Dari sini kita semua sudah tampak kelelahan, berjalan perlahan lahan dengan sisa semangat yang telah dihancurkan oleh angkot laknat.

Akhirnya kita tiba di pos 1 setelah berjalan kurang lebih 60 menit. Kita disini sempatkan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Setelah dirasa cukup kami pun melangkah kembali, kali ini trek semakin menantang dengan tanjakan tanjakan yang cukup membuat dengkul kendor. Beberapa kali beristirahat untuk memulihkan tenaga. Berjalan hampit 60 menit kami tiba di Pos 2. Di pos 2 ini terdapat pipa air yang bisa digunakan oleh para pendaki. Selepas pos 2 trek tetap di bawah kanopi pohon pohon besar sehingga tak perlu takut kulit hitam terpapar sinar matahari, hehehe. Trek juga semakin aduhai dengan kemiringan yang lebih ekstrim. Terkadang kita pun harus semi reppeling dengan berpegangan akar akar pohon yang menjuntai untuk terus bergerak maju, bahkan kalo saya bisa menyebutnya dengan trek 3D (Dengkul ketemu dada ketemu dagu). Kami pun semakin banyak beristirahat di trek yang kejam ini, 10 langkah berjalan 10 menit beristirahat. Bahkan si Ika dan Abi sangat sering tiduran di tengah jalur, bahkan bagi para pendaki mungkin mereka ini bagaikan polisi tidur di tengah jalur, hahaha. 

90 menit berjalan kami akhirnya tiba di pos 3. Pos yang tidak terlalu lebar tapi bisa digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Kami tetap melanjutkan perjalanan karena tujuan kami awal adalah puncak. Karena hanya puncak Cikuray yang terdapat banyak spot untuk mendirikan tenda. Berhubung kami membawa banya anggota akhirnya diputuskan untuk para porter kulkas yang membawa tenda untuk segera melangkah cepat dan mendirikan tenda dipuncak. Karena kaki saya tidak kuat berjalan cepat akhirnya saya lebih memilih untuk mencari alibi menemani anggota wanita dengan menjadi penyapu ranjau di belakang, hahaha. Tim kaki dewa pun melesat jauh meninggalkan kami tim kaki polio. Ditengah perjalanan kami sempatkan untuk memasak mie instan tepatnya di pos 4. Perut yang berbunyi dan kaki yang lemas kehilangan tenaga sudah tidak dapat ditolerir. 

Setelah acara masak memasak kami akhirnya berjalan kembali, tak berapa lama kami pun tiba di pos 5 atau puncak bayangan. Di pos ini berupa tanah datar yang cukup luas, para pendaki pun sering mendirikan tenda di puncak bayangan sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari pos 5 ini tampak jelas puncak cikuray dikejauhan. Dari sini pun saya sempat membayangkan betapa aduhai trek yang akan saya lalui kembali. Waktu yang semakin sore kami pun segera bergegas berjalan kembali. Dan benar saja tak jauh dari Pos 5 trek gila sudah menguji fisik dan mental kita. Menurut saya ini adalah trek tersulit selama pendakian ini, trek berupa jalanan sempit sangat curam banyak akar akar pohon menghalangi kita. Bahkan ada beberapa bagian yang saya tidak melaluinya sendiri, apalagi dengan membawa kulkas bertuliskan 70 liter ini. Tampak di depan saya tanah hampir 1,5 meter menghadang, harus dengan bantuan tangan anggota lain untuk melewatinya.

Di tengah jalan matahari semakin redup dan gelap selang beberapa menit hujan deras langsung mengguyur tubuh kami. di tengah hujan trek berubah bak sungai dengan arus deras dengan airnya yang sangat dingin. Ujian sekali lagi dalam pendakian kali ini, tapi ya dinikmati saja. Tak beberapa lama saya pun bertemu dengan Ibo yang tampak kebingunan mencari spot mendirikan tenda. Saya pun penasaran karena rencana awal langsung kepuncak tapi kok Ibo malah mendirikan tenda di jalur datar yang sempit ??. ternyata menurut hasil survey Ibo pelataran di puncak telah penuh dengan tenda lainnya, akirnya kita pun terpaksa memasang 3 tenda di tanah yang sangat sempit ini. Dalam guyuran hujan akhirnya 3 tenda kami pun berdiri. Tak banyak yang kami lakukan malam yang ditemani hujan ini. Masak masak kecil dan langsung masuk kedalam kantung tidur masing masing.

Jika mendaki Gunung Cikuray dan berniat untuk mendirikan tenda alangkah baiknya untuk segera cepat mencapai puncak sebelum malam karena ketersediaan lahan mendirikan tenda yang terbatas. Terlebih lagi jika saat Weekend dan musim pendakian.

Alarm satu persatu berbunyi, berat untuk membuka mata sebenarnya. Tapi matahari pagi akan sayang jika kita lewatkan. Segera bersiap siap kamipun melangkah kembali dalam subuh yang dingin itu. Jalan sudah landai hanya dengan beberapa tanjakan saja. tak sampai 15 menit kami tiba di puncak Gunung Cikuray, puncak ditandai dengan pos bertuliskan Puncak Cikuray. Di puncak ini pun tampak ramai denga beberapa pendaki yang telah bangun dari mimpi mereka.    

Tampak horizon cakrawala membelah tepat setelah mentari muncul dari peraduannya. Awan awan tampak berarak di bawah kita. Sungguh pagi yang luar biasa, doa kecil pun saya panjatkan “Alhamdulillah aku bisa hidup di negeri yang sangat indah ini”, bergetar rasanya setiap dapat menginjakkan kaki di tanah tertinggi. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan. 

Di puncak Cikuray kita dapat melihat Gunung Papandayan yang selalu mengeluarkan asap dari kawah aktifnya. Disebelah barat tampak Gunung Guntur Masigit, dan juga Nampak kecil dikejauhan Ciremai yang gagah. Sungguh pagi yang sangat menyenangkan apalagi dapat menikmati dengan teman teman asik serta salah satu anggota keluarga tercintaku, adek Fita dan Ferdy. Mungkin ini pengalaman pertama mereka naik gunung yang tak akan terlupakan selamanya oleh mereka berdua. Terima kasih untuk kalian semua dan jangan pernah lupakan setiap langkah perjalanan yang telah kita lalui bersama sama. Salam sehat bebas polioooo….woyooooooooooo.

Gunung Papandayan 2665mdpl Garut Jawa Barat

 http://cdn-media.viva.co.id/thumbs2/2011/08/06/119057_gunung-papandayan_663_382.jpghttps://stenisia.files.wordpress.com/2012/07/dsc_1361.jpg
Papandayan, 15-17 Agustus 2014
Untuk pertama kalinya aku menjadi anak Gunung dengan mendaki Gunung yang sebenarnya its not me, tapi karena aku suka mencoba semua hal yang berhubungan dengan travelling di Indonesia serta mencoba sensasi semua objek wisata Indonesia jadinya ajakan dari EO si Bolang alias Hery aku iyakan. Awalnya mereka hendak naik Gunung ke Gunung Salak di Bogor maklum saja Hery dkk emang hobbi naik gunung tapi karena aku ogah kesana karena ada kejadian pesawat Sukhoi apalagi aku masih newbie naik gunung. Beruntungnya Hery mengubah rencana menjadi pendakian ke Gunung Papandayan dengan judul Agung Adventure.
Saking semangatnya ikut aku malah menebar virus jalan-jalan ke Melisa teman kuliahku waktu di Teknik industri USU angkatan 2007 serta Sarta dan Desty yang notabenenya sama sepertiku, pemula naik Gunung. Syukur Gunung yang didaki ialah Gunung Papandayan Garut, tempat yang cocok untuk pemula pendaki Gunung seperti kami.
Saking semangatnya aku sampai bela-belain beli tas baru, sleeping bag ama tenda demi mendaki ke Gunung Papandayan. Sampai si Hery berceloteh “orang kaya baru sekali naik gunung langsung beli tenda”, kuplak! padahal emang aku sudah lama pengen punya tenda :D
Awalnya Desti membatalkan ikut naik Gunung karena mamanya tidak mengizinkan rupanya di hari H malah dibolehkan jadinya Sarta yang batal tapi malah jadi ikut. Benar-benar lucu pendakian pertama ini!
Pas di hari H pendakian ternyata yang mau bergabung untuk mendaki Gunung Papandayan berjumlah 20 orang dengan 6 cewek dan 14 cowok. Peserta naik Gunung Papandayan yaitu Aku, Desty, Sarta, Melisa, Fariza, Tio, Arzan, Andi, Aji, Agung, Ade, Hery, Irwan, Irman, Nirwan, Meri, Kholdun, Richard, Reza, Noval.

 Jakarta, 15 Agustus 2014
Jumat malam merupakan malam nya anak pecinta jalan-jalan baik si bolang, si backpacker maupun si Indonesian holic buat menyusun perjalanan lari dari rutinitas. Nah karena kami beda-beda tempat seperti ada dari Bayah, Ciwandan serta peserta di luar Anak Ex MT sehingga perjalanan kita dimulai ke Terminal Primajasa di Cililitan BKN, Jakarta.
Perjalanan dibagi atas 3 group yaitu rombongan dari Setia Budi Jakarta, rombongan Thamrin dan rombongan Kampung Rambutan (untuk Melisa yang kerja di Tangerang serta rombongan Ciwandan).
Aku yang rombongan dari Jl M Thamrin bersama Desty dan Nirwan serta Irwan dan Reza menuju ke Cililitan BKN dengan busway dari Tosari. Eeh aku dan Desty malah keduluan naik busway dan sempat bingung mau turun dimana ternyata terminal busway untuk pol bus Primajasa ada di Terminal Busway Cililitan BKN karena ada beberapa Cililitan seperti Cililitan Ciliwung, Cililitan UKI dll.
Kami berangkat dari jam 8 dan sampai di Cilitan para peserta lain telah berkumpul. Ternyata banyak sekali para penjelajah di Pol Primajasa bahkan kami sampai antri untuk menuju ke Garut di Jawa Barat. Keberangkatan dari Jakarta jam 10 dengan ongkos Jakarta-Garut Rp45000.

Garut, 16 Agustus 2014
Sesampai di stasiun Guntur Garut jam 3 pagi, kami harus naik angkot dengan biaya angkot ke Desa Cicurupan seharga Rp20.000/orang. Sesampai di Desa Cicurupan kami melakukan persiapan untuk pendakian dimulai dari sarapan, sholat bagi umat Islam serta kalau mau ke Toilet.  Hingga jam 6 pagi barulah kami menuju ke kaki Gunung Papandayan dengan mobil pick up berisi tas kami yang gede. Disinilah letak keseruan pendakian kami karena jalanan yang terjal sehingga membuat kami berterika ketika mobil bergoyang dengan hebat. :D

Sesampai di kaki Gunung Papandayan kami registrasi di pintu penjaga dengan memberikan potocopy KTP serta membayar harga karcis masuk Taman Wisata Kawah Papandayan buat wisatan lokal di hari biasa Rp5000 sedangkan hari libur Rp7500. Sebelum memulai pendakian kami memulai berdoa serta senam untuk pemanasan. Selesai senam barulah kami memulai pendakian bersama para cowok tangguh yang bisa diandalkan!
Untuk menuju Kawah Papandayan dari kaki Gunung Papandayan kami membutuhkan lama perjalan selama 1 jam setengah karena kami banyak istirahat serta mengabadikan photo.
Hal unik dari kawah Papandayan dari warna sulfurnya yang kuning serta mengeluarkan asap. Tak jauh dari kawah terdapat sebuah warung untuk membeli makanan.
Satu lagi yang membuat aku kaget dengan Gunung Papandayan yaitu saat motor bisa naik ke Pos pertama melewati jalanan yang sangat terjal, luar biasa!

Untuk pendakian Papandayan meski katanya cocok untuk pemula ternyata lumayan bikin Gempor alias jalanannya yang berliku dan menantang. Desty sampai jatuh, Sarta KO, Tio pucat serta aku yang kelelahan, hanya Iza dan Melisa yang super wanita Gunung :D, daughter of mount! hehehhe
Sampai-sampai aku teringat lagu Ninja Hatori “Mendaki Gunung lewati lembah, sungai mengalir indah bersama teman bertualang” :) cocok banget ya :)

Dari pos pertama ke pos kedua ternyata jalanannya masih panjang dengan jalanan yang memutar. Saat hendak menuju ke Pos II lah Desty terpeleset serta Sarta langsung KO sehingga kami berhenti sejenak di POS II.

Ternyata dari POS II ke Pondok Salada masih jauh sedangkan tempat untuk berkemah di Gunung Papandayan berada di Pondok Salada. Hingga akrhinya kami sampai di Pondok Salada penuh dengan seribu cerita perjalanan jam 1 siang. Para cowok-cowok sudah siap-siap mendirikan tenda serta mencari tempat yang tepat :)

Catatan Perjalanan Gunung Papandayan
1. Lama perjalanan dari Stasiun Bus Guntur Garut ke Desa Cisurupan sekitar 1 jam dengan ongkos Rp20.000/orang
2. Lama perjalanan dari Desa Cisurupan ke Kaki Gunung Papandayan sekitar 1 jam dengan ongkos Rp20.000/orang
3. Harga tiket masuk ke Gunung Papandayan untuk wisatawan lokal Rp7500 di hari libur
4. Sebaiknya pergi dengan teman yang sudah sering naik Gunung dan baiknya dengan rombongan
5. Peralatan gunung yang wajib dibawa ialah syal, jaket, tenda, sleeping bag, matras, obat-obatan, makanan, kompor untuk masak dll.
6. Di Gunung Papandayan terdapat sebuah toilet
7. Objek wisata menarik di Gunung Papandayan ialah Kawah Papandayan, Tegal alun untuk melihat padang Edelweiss, dan hutan mati.
8. Untuk lama perjalanan sampai ke Pondok Salada dibutuhkan paling cepat 3 jam perjalanan kalau tanpa berhenti.
9. Terdapat pos selama pendakian yaitu pos 1 dekat dengan kawah, Pos II serta Pondok Salada.
10. Rute perjalanan selama di Gunung Papandayan saat pendakian ke Padang Edelweis : Kaki Gunung Papandayan-Kawah Papandayan-Pos I-Pos II-Pondok Salada-Hutan Mati-Tegal alun
 

Gunung Patuha 2434mdpl Bandung Jawa Barat

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhv5_N30CCQshlfX7fEJ-YfSZ52oiD9GI6mn6mElZ7718vfU1UGsK32L9jTFTBfjWGZtXXCGf-crYd0WjMO6pA8LyHdIFaTVPgvN13qFVdnt_2fHvzLyJgD5VqqZGpdEtvglrCWiP8IGc4/s1600/250976_175108045876706_100001325364538_390997_4844396_n.jpghttp://static.panoramio.com/photos/large/75435044.jpg
Gunung Patuha merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa,Indonesia, tepatnya di wilayah Bandung Selatan Provinsi Jawa Barat, Tingginya 2.386 meter. Gunung patuha memiliki kawah yang sangat eksotik, yaitu kawah putih. Kawah yang terbentuk dari letusan gunung patuha itu memiliki dinding kawah dan air yang berwarna putih. Gunung Patuha mempunyai kawasan hutan Dipterokarp bukit, hutan Dipterokarp atas, hutan Montane dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Selain itu Gunung Patuha memiliki sebuah kawah yang benama Kawah Putih yang sekarang dijadikan obyek wisata.

 Terletak sejauh kurang lebih 46 km di Selatan Bandung, melewati Kota Ciwidey, Kawah Putih Gunung Patuha adalah salah satu tujuan wisata dengan keindahan alam masih asri hingga kini. Berbeda dengan kawah Tangkuban Perahu yang sebagian besar sudah tidak aktif, Kawah Putih Gunung Patuha ini masih aktif hingga kini. Disana kita bisa melihat uap panas yang keluar dari bebatuan yang kita injak dan gelegak air di tengah kawahnya. Sementara aroma belerang tercium, namun tak terlalu keras, kala berada di sekitar kawah.

Danau Kawah Putih mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri. Air danau kawahnya selalu berubah-ubah warna. Terkadang berwarna hijau apel dan kebiru - biruan bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu dan yang paling sering dijumpai adalah berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Bahkan, tatkala sore hari, air danau kawah pun, tiba - tiba pasang surut. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih. Karenanya kawah itu dinamakan Kawah Putih.

Gunung Patuha, yang konon berasal dari nama Pak Tua — masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh ( tua ), memiliki ketinggian 2.434 m dpl, dengan kisaran suhu 8-22 derajat Celsius. Di puncak Gunung Patuha itulah, terdapat Kawah Saat yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 m dpl. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada abad X dan XII silam.

Terkenal karena keangkerannya, misteri di seputar danau kawah putih baru terungkap tahun 1837, oleh seorang ilmuwan Belanda peranakan Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Ketika itu, Junghuhn mengadakan perjalanan ke Gunung Patuha, dia sempat bertanya pada masyarakat setempat tentang suasana alam yang dirasakannya sangat hening dan sunyi. Ternyata dia mendapat jawaban, bahwa di kawasan tersebut merupakan daerah angker sebagai kerajaan jin dan tempat bersemayamnya roh para leluhur.

Namun, Junghuhn tidak mempercayai cerita itu begitu saja, sambil melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah danau kawah yang indah. Dari dalam danau itu keluar semburan lava bau belerang yang menusuk hidung. Ternyata kondisi belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang di atas permukaan kawah.

Namun demikian, meski keindahan danau Kawah Putih dan Kawah Saat terungkap, tetap saja tersembunyi —tidak dikenal dan belum bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Hingga 1987 PT Perhutani ( Persero ) KPH Unit III Jabar dan Banten mengembangkannya menjadi sebuah objek kunjungan wisata.

Fasilitas pendukung di lokasi ini masih terus dikembangkan. Di dekat lahan parkir lokasi ini, sedang dibangun gubuk-gubuk bambu yang rencananya akan dijadikan lokasi pusat jajanan dan warung serba ada. Dengan cara ini, petani atau pedagang yang berjualan dapat menjadi lebih tertib dan rapih.


Dilokasi ini, kita bisa membeli hasil kebun para petani di sekitar Ciwidey, seperti strawberry, jagung bakar dan rebus, dan buah pepito. Harganya sangat murah dibandingkan jika kita membelinya di Jakarta.

Toilet dan musholla juga tersedia di lokasi ini, dan dikelola dengan sangat baik dan bersih oleh masyarakat sekitar. Sangat disayangkan bahwa jumlah toiletnya hanya ada 1 bangunan dengan 3 pintu, dibandingkan dengan jumlah pengunjung yang hadir dan akan menggunakan toilet tersebut. Sumber air diperoleh dari air pompa yang pada musim kemarau sangat sedikit dapat mengeluarkan air. Mungkin dikarenakan tekstur dan kontur daerah tersebut yang menyebabkan sulitnya perolehan air bersih.

Pendakian Gunung Guntur 2249mdpl Garut Jawa Barat

http://www.garutkab.go.id/galleries/news/gunung%20guntur.jpg https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjE8R2sRKA9A4hnXLVjqMeBPvwECy4H9o4PgU1HWRbnPNhfGrOWyia3YcsVjhDSq84nK2DBqEKUT-qpkd6zvDPxOmo_njqlXJ-Pr2Y9F5mpuFd7sS7Gw0HHXrT3_xgUYyC9GOZJQZdbdmQ/s1600/DSCN0247.JPG
"SI PENDEK YANG MENANTANG"
Akhir pekan, tidak terlalu banyak gunung yang dapat dikunjungi dalam waktu hanya 2 hari. Terlebih jika kawasannya sangat jauh dari Jakarta. Sehingga lagi-lagi kota Garut menjadi tujuan utama kami.
Kota Garut memang menyimpan keindahan alam yang tak berbatas. Selain Gunung Papandayan dan Cikuray yang sudah cukup dikenal, ternyata masih ada satu lagi gunung indah di sana. Gunung Guntur atau biasa disebut warga setempat gunung Gede. Hasil penelusuran singkat sebelum memutuskan berangkat, saya mendapati bahwa gunung ini memiliki ciri khas yang cukup unik dibandingkan gunung lainnya di Garut, yaitu mayoritas konturnya berpasir dan berbatu serta hanya ditumbuhi rumput ilalang (sabana) yang cukup tinggi bahkan sampai ke puncaknya. Sungguh memesona. Wajar jika beberapa orang menyebutnya Rinjaninya Kota Garut.

Gunung yang terletak di Kampung Dukuh Desa Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut ini merupakan gunung api yang masih aktif meskipun aktivitas vulkaniknya cenderung menurun hingga kini. Namun pada tahun 1800 an, gunung ini merupakan gunung berapi paling aktif di Kota Garut dan letusan terbesarnya terjadi pada tahun 1840.
Ada beberapa yang menyebutkan bahwa Guntur adalah Rinjani-nya Kota Garut. Karena panoramanya sangat indah.Selain medan gunung yang menantang, Guntur juga dilengkapi dengan lembah, air terjun, sungai, panorama alam dan kawah.
Jumat pulang kantor seperti biasa, saya dan 6 orang teman lainnya berkumpul di Kp Rambutan. Dan langsung naik bus tujuan Garut dengan pemberhentian di pom bensin Tanjung, Garut dan masjid di dalamnya menjadi titik kumpul pertama. Kami tiba pukul 2 dini hari, sehingga sekedar merebahkan badan setelah melaksanakan 2 rakaat rasanya baik untuk kami mengumpulkan tenaga untuk tracking beberapa jam ke depan.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi, setelah kami melakukan Shalat Subuh dan packing ulang, kami siap untuk memulai perjalanan melalui gang sebelah pom bensin yang merupakan awal mula jalur pendakiannya. Rejeki anak sholeh sholehah! Baru jalan kaki sedikit, langsung dapat tebengan truk. Sebenernya nebeng truk itu pilihan hidup dan mati. Jalur berpasirnya yang kayaknya gak cocok buat truk untuk memanjat dan berkelok dengan sisi kanan dan kiri jurang selain bikin mules, kalau lengah sedikit bisa kelempar keluar dari truknya. Tetapi karena dapat menghemat waktu selama 2 jam dengan berjalan kaki, alhasil kamipun menaikinya.

Kalau dilihat dari ketinggian Gunung Guntur 2249 MDPL, banyak orang yang meremehkannya. Sepertinya mudah saja untuk mendaki, bahkan pendaki pemula juga oke. Terlebih ketinggian gunung ini lebih rendah dari ketinggian Gunung Papapandayan (2665 MDPL) yang biasanya digunakan untuk sekedar camping ceria. Rasanya cukup untuk sekedar melepaskan rindu dengan tracking dan udara gunung. Terlebih saya saat itu baru saja sembuh dari demam selama 3 hari. Itupun setelah mendesak dokter untuk memberikan obat yang paling manjur yang dia punya agar dapat sembuh selama 3 hari saja. Walaupun sang dokter kala itu hanya tertawa mendengar permintaan saya, tetapi Alhamdulillah berkat ridho Allah SWT melaui obat dokter itupun saya siap bertempur setelah 3 hari sakit.
Tetapi… dugaan saya terpatahkan sesaat setelah saya berada sejak di kaki gunungnya pun.
Gunung Guntur memiliki kemiringan yang sangat curam dan material tanah berupa tanah pasir berbatu. Untuk stabilitas tanahnya wilayah ini tergolong labil, dengan tingkat kelongsoran tanah yang tinggi dan daya serap tanah yang cukup. Hal ini diperparah dengan pengrusakan yang dilakukan oleh para penambang pasir ilegal di kaki gunung ini. Terlihat betapa tandusnya kawasan kaki gunung ini sebagai akibat dari penambangan pasir tersebut.

Dengan bismillah saya melanjutkan tracking.

Ini adalah pendakian pertama ke Gunung Guntur untuk kami bertujuh, sehingga bermodal bismillah kami menyusuri track dengan track yang ada. Ternyata benar saja, ada dua jalur pendakian, yaitu jalur Curug Citiis 1-3 atau yang satu lagi jalur ikan asin (sebenarnya ini julukan dari saya sendiri, betapa tidak lewat jalur ini jalanan kering kerontang tanpa air, panas, dan pepohonan rindang hanya bisa dihitung dengan jari – persis seperti proses pembuatan ikan asin hehehe). Dan kenyataannya, kami melewati jalan ikan asin itu (Ini menjadi sangat penting, jangan lupa pakai sunblock!) Sedangkan yang lainnya ternyata banyak yang melewati jalur Curug Citiis yang lebih rindang walaupun tracknya luar biasa dasyat, jalur tracknya hamper mirip seperti Gunung Cikuray.

Jika mendaki gunung lain, team tidak akan terpecah, saling tunggu dan saling susul. Berbeda dengan pendakian Gunung Guntur, masing-masing memiliki metode sendiri untuk menjaga diri masing-masing agar tetap sanggup untuk mendaki. Bahkan saya menerapkan sistem 10:1, jadi 10 kali mendaki 1 kali berhenti untuk nafas lebih panjang. Tetapi sayangnya jalur pasir nan seru ini membuat perjalanan lebih istimewa, karena dengan mendaki 10 langkah, akan merosot 5 langkah.

Namun jangan salah, melewati jalur Curug juga hanya sampai batas Curug 3, setelah itu sama seperti jalur ikan asin yang kejemur luar biasa maha dasyat dengan nafas senin-kamis dan tidak ada sumber air lagi. Curug Citiis 3 adalah sumber air terakhir, yang berarti pendakian semakin berat karena harus mengambil air sebanyak-banyaknya biar tetap bertahan hidup selama di puncak. Dengan track nan aduhai dan stok berliter-liter air di gendongan membuat perjalann ini semakin menantang.

Seperti yang saya ungkap sebelumnya, jumlah pohon rindang bisa dihitung dengan jari, sehingga dirasa setiap pohon rindang kami anggapn sebagai pos untuk beristirahat sejenak dan bahkan sampe umpel-umpelan dengan pendaki lain yang juga lagi neduh dan istirahat saking jarangnya pohon rindang.

Semakin menuju puncak semakin miring juga jalannya, bahkan sampai hampir harus mencium tanah, karena sudah tidak bisa dibedakan kembali mana tanah untuk dipijak mana tanah untuk berpegangan. Bisa dibayangkan sistem 10:1 tadi akhirnya berubah menjadi 5:1 dengan paha dan betis yang saling bergema di setiap langkahnya (nyut-nyutan). Luas biasaaaa seruuu!

Tidak terasa 7 jam sudah berlalu (siapa bilang tidak terasa?), tibalah kami di puncak bersama 2 rekan saya yang lain. Dari situ kami tersedar, bahwa tendanya ada bersama 4 kami lainnya yang belum sampai puncak. Akhirnya dengan panas terik kami memulai memasak karena perut juga sudah terasa sangat lapar 4 bungkus indomie kami makan bersama 3 pendaki lain yang juga sedang menunggu rombongannya.
 
Lelah berubah menjadi rasa syukur saat melihat panorama indah dari atas sini. Kota Garut nan indah, terlihat lebih indah dari atas sini. Subhanallah.

Beberapa jam kemudian, 4 teman kami lainnya. Dengan sigap kami bekerjasama membangun tenda dan memasak untuk rekan kami yang baru tiba. Satu nilai plus lagi untuk hobi mendaki ini, bersosialisasi dan kerjasama dengan yang lainnya tanpa pamrih.

Malam tiba, terdengar di luar tenda riuh tertawa bersorak pendaki-pendaki yang sudah membangun tendanya. Bahkan salah satu rekan kami berkata bahwa pemandangan kota Garut sangat canti di malam hari dengan cahaya-cahaya lampunya yang menghias seperti bintang. Seperti sedang berada tengah langit, dengan kemilau bintang dari atas langit dan dari bawah dari cahaya lampu Kota Garut. Namun apa daya, karena badan kembali tidak enak. Padahal inilah yang dinantikan semua pendaki Gunung Guntur.

Setelah saya memutuskan untuk berada di dalam tenda, dingin malah semakin menggigit. Kulit terasa semakin kering terlebih setelah siangnya tersengat panas terik, terlebih di Puncak Gunung Guntur ini dehidrasi sangat tinggi karena tidak ada sumber air. Sehingga berpengaruh pada kulit yang juga dirasa butuh untuk meregenerasi dengan asupan yang cukup. Terbawa saat kebiasaan di rumah, caring moment pakai pelembab Nivea Night Whitening Body Serum pun saya lakukan di sini. Siapa bilang pendaki atau seorang backpacker ga boleh menjaga kulitnya. Bahkan akibat sengatan matahari langsung, kulit lebih cepat rusak dan harus cepat pula diperbaiki. Terlebih malam hari adalah saat yang paling aktif, bahkan 2 kali lebih aktif ber-regenerasi mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berguna buat memperbaiki sel-sel yang rusak itu jika dirangsang dengan serum bervitamin C ini. Jadilah kebiasaan ini kebawa-bawa kemanapun, dan siap tidur berselimut sleeping bag hangat di malam hari.

Dan besoknya saya baru sadar, kalau kita baru di puncak 1 karena dari situ melihat puncak lainnya yaitu puncak 2, dan yang lebih terkejut lagi ternyata Guntur punya 4 puncak.

Karena saya ga sanggup, saya rasa tidak wajib sampai ke puncak 4 (ya daripada ga bisa turun lagi ya boooo ini udah pegel banget).
Pagi hari, saatnya berjumpa dengan sunrise yang indah.

It’s time to Turun Gunung!
Tanpa ragu-ragu, gunung Guntur saya nobatkan sebagai gunung yang lebih susah dituruni walaupun lebih pendek mdplnya dari gunung lain yang pernah didaki. Di Gunung Slamet manjat berjam-jam, turun bisa cuma 2 jam. Minimal bisa gelindingan. Sedangkan di Guntur, jangankan lari, gelesoran ngikutin kerikil saja masih sulit. Akhirnya saya memilih seperti turun dengan teknik perosotan sampai celana sobek di bagian belakang yang baru saya sadari saat hamper sudah sampai bawah. Hiks!

Setelah beberapa jam akhirnya, tibalah di bawah. Perjuangan maha Dasyat mendaki Gunung Guntur malah membuat saya rindu sesaat setelah mencapai kaki gunungnya. Dan suatu saat pasti akan melalukannya lagi, suatu saat.

"Catatan wajib: sarung tangan tebal, buff (penutup muka), dan sepatu di Gunung Guntur adalah wajib."